Banyak koperasi dan usaha PPOB di kota kecil ingin ikut arus digitalisasi, tapi begitu dicek ke belakang, ternyata buku catatannya masih berantakan. Aplikasi secanggih apa pun akan kesulitan bekerja kalau data yang dimasukkan sejak awal sudah tidak rapi. Berikut beberapa masalah pencatatan yang perlu dibenahi dulu sebelum bicara soal teknologi.
1. Buku catatan yang mudah rusak dan hilang
Di banyak koperasi desa, transaksi harian masih ditulis tangan di buku tulis biasa. Kalau buku itu basah kena hujan, dimakan rayap, atau terselip di antara barang gudang, riwayat transaksi bulan lalu bisa hilang begitu saja. Padahal data itu jadi dasar untuk hitung sisa hasil usaha di akhir tahun.
Masalahnya bukan cuma soal fisik buku, tapi juga soal siapa yang bisa membacanya. Kalau pengurus yang biasa mencatat sedang sakit atau berhalangan, pengurus lain kadang bingung menerjemahkan singkatan atau coretan yang dipakai.
2. Selisih kas akibat pencatatan manual PPOB
Kios PPOB yang melayani pembayaran listrik, pulsa, dan token air biasanya mencatat setoran secara manual di kertas atau buku kas kecil. Begitu hari sudah malam dan pemilik kios capek, kadang ada nominal yang salah tulis atau lupa dicatat sama sekali.
Selisih seribu dua ribu rupiah mungkin terasa kecil, tapi kalau terjadi setiap hari selama sebulan, jumlahnya bisa cukup mengganggu keuangan usaha kecil. Sayangnya, karena pencatatan manual sulit dilacak ulang, sumber selisihnya sering tidak pernah ketemu.
3. Data anggota koperasi yang tercecer di banyak buku
Data anggota koperasi biasanya tersebar di beberapa buku berbeda: buku simpanan, buku pinjaman, buku iuran bulanan. Kalau ada anggota baru atau anggota yang keluar, pengurus harus mengubah data itu satu per satu di setiap buku.
Proses ini rawan salah, apalagi kalau koperasi punya ratusan anggota. Satu nama yang tertulis beda di dua buku saja bisa membuat laporan keuangan tidak sinkron saat rapat tahunan.
4. Sulitnya melacak riwayat transaksi saat dibutuhkan
Bayangkan seorang anggota koperasi datang menanyakan simpanannya tiga tahun lalu untuk keperluan pengajuan pinjaman baru. Pengurus harus membongkar arsip lama, membuka lembar demi lembar, dan berharap catatan itu masih terbaca jelas.
Proses pencarian yang lama seperti ini bukan cuma menghabiskan waktu, tapi juga membuat anggota merasa koperasinya tidak dikelola secara profesional, meski sebenarnya pengurusnya sudah bekerja jujur dan disiplin.
5. Kepercayaan anggota yang terganggu tanpa jejak yang jelas
Kepercayaan di koperasi dibangun dari transparansi. Kalau anggota tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana uang mereka dikelola, muncul kecurigaan meski belum tentu ada kesalahan. Ini sering terjadi bukan karena pengurus tidak jujur, tapi karena sistem pencatatannya memang tidak memungkinkan siapa pun melihat riwayat secara utuh.
Semakin besar koperasi, semakin besar juga risiko kesalahpahaman semacam ini kalau pencatatannya masih mengandalkan cara lama.
6. Kenapa aplikasi saja tidak cukup
Banyak yang berpikir solusinya cukup unduh aplikasi kasir atau aplikasi koperasi digital yang beredar di internet. Namun aplikasi hanyalah wajah depan. Kalau data yang tersimpan di baliknya tidak terjamin keamanan dan konsistensinya, aplikasi secanggih apa pun tetap rawan data ganda, data hilang, atau data yang bisa diubah sembarangan oleh pihak yang tidak berhak.
Di sinilah letak perbedaan pendekatan yang dibangun Engine Blockchain, infrastruktur teknologi yang dikembangkan PT Engine Solusi Pintar Nusantara (ESPN). Alih-alih hanya membuat aplikasi, ESPN membangun infrastrukturnya sendiri mulai dari mainnet, jaringan node bernama EBC85, hingga mekanisme konsensus pBFT yang membuat setiap transaksi disetujui mayoritas node sebelum tercatat.
7. Koperasi Pintar: mencoba menjawab masalah dari akarnya
Salah satu produk yang sudah dipublikasikan dari ekosistem Engine Blockchain adalah Koperasi Pintar, layanan koperasi digital dan PPOB yang dibangun di atas infrastruktur tersebut. Karena berjalan di atas buku besar dengan penguncian data untuk informasi sensitif, riwayat transaksi tidak mudah diubah sepihak, dan setiap pencatatan punya jejak yang bisa ditelusuri kembali.
Bagi koperasi kecil di kota kecil, ini berarti tidak perlu lagi khawatir buku catatan basah kena hujan atau selisih kas yang sumbernya tidak jelas. Pencatatan yang lebih rapi ini juga jadi pondasi kalau suatu saat koperasi ingin berkembang ke layanan lain, karena datanya sudah tersusun dengan struktur yang jelas sejak awal.
Rangkumannya begini
Digitalisasi koperasi dan PPOB bukan cuma soal pindah dari kertas ke layar HP. Masalah yang lebih dasar ada pada bagaimana data dicatat, disimpan, dan dijaga agar tidak mudah hilang atau diubah sembarangan. Membenahi pencatatan dulu, baru bicara teknologi, adalah urutan yang lebih masuk akal bagi pelaku usaha kecil yang ingin bertahan lama.